Breaking News:

Kemenkes Upayakan Target Pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan Malaria, Ini Langkah yang Dilakukan

Upaya pencapaian target pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan Malaria akan terus dikejar hingga tahun 2024. ​​

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Budi Gunadi Sadikin - Menteri Kesehatan (Muchlis jr/Biro Pers Sekretariat Presiden). 

TRIBUNHEALTH.COM - Upaya pencapaian target pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan Malaria akan terus dikejar hingga tahun 2024. ​​

Menteri Kesehatan RI, Budi G.Sadikin menyampaikan target ini dapat tercapai dengan dukungan leadership dan akuntabilitas pemerintah daerah provinsi dan kabupaten kota.

"Leadership dan akuntabilitas pemerintah daerah di tingkat Provinsi dan Kab Kota adalah kunci keberhasilan Indonesia atasi HIV, TB dan Malaria dalam sistem kesehatan yg terdesentralisasi di tanah air," ungkap Menkes Budi dilansir Tribunhealth.com dari situs resmi sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Diharapkan pada akhir tahun 2024 target 90 persen penemuan dan 90 persen pengobatan HIV/AIDS tercapai. Demikian juga target 90 persen penemuan kasus dan 90% pengobatan TBC.

Baca juga: Sederet Manfaat jika Lakukan Sunat, Dokter: Mulai dari Mengurangi Risiko ISK hingga Tertular HIV

Kondisi saat ini, pada tahun 2022, untuk kasus TBC baru 286 ribu dari 824 ribu kasus yang terdeteksi, sisanya 537 ribu kasus belum terdeteksi.

Demikian halnya pada HIV/AIDS. Tahun ini, dari target 97 ribu kasus terdeteksi, baru 13 ribu (13%) yang ditemukan.

Sementara untuk kasus positif malaria dan annual parasite index (API) cenderung meningkat, terutama di wilayah Indonesia Timur. Dari tahun 2020 ke 2021 kasus positif malaria naik 50 ribu kasus.

Ilustrasi diagnosis penyakit malaria
Ilustrasi diagnosis penyakit malaria (kompas.com)

Dalam mengejar target eliminasi HIV/AIDS, TB, Malaria, pemerintah dibantu oleh Global Fund sebagai mitra pembangunan kesehatan di Indonesia.

Sejak 2003 hingga saat ini sebesar USD 1,45 Miliar (Rp 20,89 Triliun) diberikan kepada Kementerian Kesehatan dan komunitas khususnya untuk program penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan malaria.

Saat ini investasi The Global Fund untuk Indonesia merupakan yang terbesar ke-2 di Asia setelah India. Besarnya dana sesuai dengan beban penyakit dan tingkat ekonomi.

Terkini, Indonesia berada pada posisi Middle-Level-Income Country dengan beban penyakit yang masih tinggi.

Ilustrasi HIV
Ilustrasi HIV (grid.id)

Strategi global untuk mengatasi penyakit TBC, HIV dan Malaria sejalan dengan Transformasi Layanan Primer yang saat ini menjadi kebijakan Kementerian Kesehatan.

Mulai dari aktivitas Pencarian kontak TBC dan upaya pemberian pengobatan pencegahan TBC, skrining penyakit HIV pada populasi beresiko seperti Ibu Hamil, skrining malaria pada daerah endemis malaria. Didukung edukasi kepada masyarakat dengan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam wadah posyandu.

Dalam HIV/AIDS, GF membantu meningkatkan layanan HIV, temuan kasus, pengobatan ARV dan rawatan, serta penyuluhan lapangan. Hingga akhir Juni 2022, sebanyak 473.005 ODHIV ditemukan dan 163.562 ODHIV sedang berobat.

Baca juga: Pentingnya Pengidap HIV/AIDS Melakukan Kontrol Rutin ke Dokter, Simak Ulasan dari Medical Sexologist

Dalam TBC, GF membantu pengadaan obat anti TBC lini pertama dan kedua, obat terapi pencegahan, alat diagnosis mikroskopis dan TCM, sampai akselerasi penemuan kasus TBC dengan skrining di fasyankes pemerintah dan swasta di 80 Kabupaten/kota pada 19 Provinsi dengan beban kasus TBC tinggi dan jumlah fasyankes swasta yang banyak.

Dalam malaria, GF membantu pemeriksaan Rapid Test (RDT), skrining Ibu hamil di daerah endemis tinggi, pendirian pos malaria, peningkatan kapasitas SDM, serta distribusi 27 juta kelambu berinsektisida (LLINs) ke daerah endemis malaria

Ilustrasi penyakit TBC
Ilustrasi penyakit TBC (kompas.com)

Dukungan terkini GF adalah membantu Kemenkes dalam membangun kapasitas genome sequencing untuk identifikasi virus dan bakteri yg lebih akurat.

Dengan Genome Sequencing maka akan didapatkan cetak biru genetik (genetic blueprint) dari genom, identifikasi mutasi baru, pelacakan asal, serta pencegahan penularan virus dan bakteri.

Kapasitas genome sequencing di tanah air jumlahnya direncanakan akan tersedia 57 mesin di akhir 2022, termasuk yg didukung Global Fund dan tersebar di berbagai provinsi.

Baca juga: Prof. Dr. dr. Harsono Sebut Sesak Napas pada Anak Banyak Disebabkan oleh Asma, Pneumonia, dan TBC

“Ke depan, peralatan sekuensing akan digunakan untuk pengembangan layanan di rumah sakit, pengebangan deteksi HIV, deteksi kasus hepatitis acute with unknown etiology dan pada kasus acute kidney failure, dan komorbid lainnya.” tambah Menkes

The Global Fund mengumpulkan dan menginvestasikan uang dalam siklus tiga tahun yang dikenal sebagai Replenishment.

Pendekatan tiga tahun ini diadopsi pada tahun 2005 untuk memungkinkan pembiayaan yang lebih stabil dan dapat diprediksi bagi negara-negara dan untuk memastikan kelangsungan program yang berkelanjutan.

(TRIBUNHEALTH)

Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved