Breaking News:

Hipertensi Tingkatkan Risiko Terkena Glaukoma, Sebabkan Kebutaan Permanen

Kehilangan pengelihatan akibat glaukoma bersifat ireversibel alias tidak bisa dipulihkan lagi

pontianak.tribunnews.com
ilustrasi seseorang yang mengalami glaukoma 

TRIBUNHEALTH.COM - Orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi lebih berisiko mengalami glaukoma, yang bisa mengancam pengelihatan.

Yang perlu dicatat, kehilangan pengelihatan akibat glaukoma bersifat ireversibel alias tidak bisa dipulihkan lagi, dilansir TribunHealth.com dari Express.

Terlepas dari konsekuensi "ireversibel", kondisi ini dapat diam dan tak menunjukkan gejala sampai berkembang.

Karenanya, penting untuk mewaspadai hipertensi agar tidak sampai menyebabkan komplikasi glaukoma.

Terkait hal ini, dokter mata dan spesialis kesehatan mata di Feel Good Contacts, Dr. Alastair Lockwood, memberikan penjelasan.

ilustrasi seseorag yang sedang melakukan cek tekanan darah
ilustrasi seseorag yang sedang melakukan cek tekanan darah (sains.kompas.com)

“Otak kita mampu mengkompensasi degenerasi alami sehingga kita memiliki sedikit kesadaran akan perkembangan penyakit," kata Dr. Lockwood

“Namun, ini berarti seringkali tidak ada gejala sampai penyakitnya sangat parah, dan kita tidak dapat (belum) meremajakan saraf optik manusia.”

Baca juga: Diabetes dan Hipertensi Dapat Sebabkan Penyakit Ginjal Kronis, Gejalanya Termasuk Urine Berdarah

Apa saja gejala glaukoma?

Pakar itu menjelaskan bahwa tanda-tanda peringatan potensial meliputi:

  • Nyeri (terutama dalam cahaya terang)
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Kehilangan penglihatan.
ilustrasi muntah akibat glaukoma
ilustrasi muntah akibat glaukoma (tribunnews.com)

Dia berbagi bahwa tanda-tanda ini dipicu oleh kenaikan mendadak tekanan mata pada glaukoma sudut tertutup akut.

2 dari 3 halaman

Namun, banyak orang dengan glaukoma mungkin tidak mengalami gejala apa pun sejak dini, itulah sebabnya Dr. Lockwood merekomendasikan pemeriksaan mata secara teratur.

“Rekomendasi umumnya adalah mengunjungi ahli kacamata setidaknya setiap dua tahun untuk pemeriksaan kesehatan lengkap dengan review resep, dan setidaknya setiap tahun jika ada faktor risiko tambahan, misalnya riwayat keluarga,” katanya.

Baca juga: Orang dengan Hipertensi Perlu Batasi Konsumsi Garam hingga Kafein

Salah satu faktor risiko tambahan adalah tekanan darah tinggi.

Specsavers menjelaskan bahwa tekanan darah dan potensi penyebab kebutaan ireversibel "berbagi hubungan yang kompleks".

ilustrasi seseorang yang mengalami glaukoma akibat hipertensi
ilustrasi seseorang yang mengalami glaukoma akibat hipertensi (kompas.com)

Menderita tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan tekanan di dalam mata meningkat, yang merupakan salah satu penyebab "utama" glaukoma.

Namun, ahli kacamata juga mencatat bahwa tekanan darah rendah juga tidak diinginkan karena dapat menyebabkan suplai darah yang tidak mencukupi ke saraf optik.

Specsavers mengatakan: “Ini merupakan pertimbangan penting karena pengobatan hipertensi yang berlebihan dengan obat-obatan dapat menyebabkan situasi di mana tekanan darah terlalu rendah dan dapat menyebabkan kerusakan pada mata."

Baca juga: Dikenal Baik untuk Usus, Konsumsi Tempe Ternyata Juga Punya Efek Positif pada Penderita Hipertensi

“Kuncinya adalah menghindari tekanan darah yang ekstrem dan memberi tahu dokter mata Anda jika Anda sedang mengonsumsi obat antihipertensi.”

Jika Anda tidak mengetahuinya, tekanan darah ideal dianggap antara 90/60 milimeter air raksa (mmHg) dan 120/80mmHg.

Namun, glaukoma bukan satu-satunya kondisi mata yang terkait dengan hipertensi.

ilustrasi masalah kesehatan mata
ilustrasi masalah kesehatan mata (tribunnewswiki.com)
3 dari 3 halaman

Penyakit mata potensial lainnya termasuk:

  • retinopati hipertensi
  • koroidopati
  • neuropati optik.

Specsavers menjelaskan bahwa masalah ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan atau gangguan penglihatan.

Jadi, penting untuk menjaga tingkat tekanan darah tetap terkendali.

Baca berita tentang kesehatan umum lainnya di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Selanjutnya
Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved