Breaking News:

Pencegahan Profilaksis Bisa Dilakukan Sebelum Terjadi Kanker Payudara, Begini Ulasan dr. Sonar

Menurut dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk operasi kanker payudara secara konvensional bisa menimbulkan risiko limfedema.

kompas.com
Ilustrasi mengidap kanker payudara stadium awal, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk ungkap pengobatan yang bisa dilakukan pasien 

TRIBUNHEALTH.COM - Operasi kanker payudara secara konvensional diharuskan dengan mengangkat kelenjar getah bening di bawah ketiak.

dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk menuturkan jika hal ini bisa menimbulkan risiko limfedema.

Perlu menjadi informasi bahwa salah satu fungsi kelenjar getah bening adalah mengatur keseimbangan jumlah cairan limfe yang beredar dalam pembuluh darah getah bening.

Limfedema yang tidak ditangani dengan tepat bisa mengakibatkan komplikasi.

Komplikasi tersebut seperti infeksi, misalnya selulitis atau infeksi pada kulit dan limfangitis atau infeksi pada pembuluh limfe.

dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk mengatakan jika tangan pasien bisa mengalami pembengkakan.

"Itu sekitar 25-30% lah kemungkinannya," ungkapnya.

Baca juga: Apakah Anak yang Menderita Alopecia Bisa Diberi Terapi Sejak Dini? dr. Ammarilis Murastami Menjawab

Ilustrasi penyembuhan kanker payudara
Ilustrasi penyembuhan kanker payudara, begini penjelasan dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk (kompas.com)

Hal ini disampaikan oleh Chairman of Eka Tjipta Widjaja Cancer Center, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS dan Konsultan Bedah Onkologi Eka Hospital BSD, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Sehat edisi 23 April 2022.

Baca juga: Laki-Laki Perlu Mewaspadai Gangguan Prostat yang Disampaikan oleh dr. Rizky Muhammad Ihsan, Sp.U

Akan tetapi adapula salah satu teknologi yang dikenal dengan operasi sentinel yang akan menurunkan risiko limfedema menjadi 5%.

"Jadi 1:20 nih baru kemudian kejadian dan itu adalah suatu operasi yang memang kita endorse lah untuk pasien supaya angka kejadian limfedema di Indonesia ini dapat menurun," kata dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk.

2 dari 3 halaman

Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS memaparkan jika pemeriksaan yang dilakukan sampai ke tingkat molekuler.

"Pengobatan yang betul-betul sangat diseleksikan untuk pasien sesuai dengan kebutuhannya," ungkap dr. Sonar.

"Termasuk nanti misalkan kita akan melakukan radiasi, jadi untuk kasus-kasus tertentu sekarang kan diketahui kalau orang radiasi itu bolak balik ke rumah sakit, kadang-kadang memang harus menyelesaikan pengobatan sesuai dengan paket radiasi," lanjut dr. Sonar.

Menurut Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS terdapat alat yang canggih yang disebut intraoperatif radiotherapy.

"Jadi kita masukkan alatnya itu setelah tindakan operasi, cuman satu kali sinar selesai," sambungnya.

Dengan begitu, pasien tidak perlu bolak balik ke rumah sakit.

Baca juga: Bagaimana Tanda-tanda Karet Behel Perlu Diganti? Begini Penjelasan drg. Eddy Heriyanto Sp.Ort(K)

ilustrasi seseorang yang mengaami kanker payudara, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS ungkap
ilustrasi seseorang yang mengaami kanker payudara, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS ungkap alat yang canggih yang disebut intraoperatif radiotherapy (kompas.com)

Baca juga: Apa Perbedaan Lensa Kontak Berbahan Kaku dan Lunak? Simak Penjelasan dr. Rani Himayani Sp.M

Tak hanya itu saja, menurut dr. Sonar juga ada pemeriksaan-pemeriksaan canggih lainnya yang tingkatnya sampai molekuler.

Untuk pemeriksaan patologis sekarang dokter hanya mengetahui beberapa subtipe, akan tetapi kedepannya nanti seluruh jenis kanker dokter akan bisa mengetahui sub tipe kanker tertentu sehingga pengobatan yang diberikan kepada pasien akan sangat selektif.

Dengan begitu, efek samping yang dirasakan akan berkurang.

"Tetapi yang jelas outcome atau hasilnya jauh lebih daripada kita melakukan pengobatan yang umum," terang Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS.

3 dari 3 halaman

Penyembuhan kanker payudara

Karena dokter bisa melakukan pengobatan yang lebih presisi dari tiap-tiap pasien, tentunya outcome yang didapat akan menjadi lebih baik.

Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS sebut jika deteksi dini adalah satu-satunya hal terpenting dalam penyembuhan dan pengobatan kanker payudara.

"Tentunya dalam cancer center ini selain memang terapi diperlukan, tetapi yang jauh lebih penting adalah kita melakukan deteksi dan preventif," tegasnya.

"Nah misalkan kita bisa mendeteksi seseorang mempunyai bakat untuk gen kanker, kita bisa melakukan pencegahan. Namanya pencegahan profilaksis jadi namanya operasi pencegahan," imbuhnya.

Dimana dokter melakukan pengangkatan organ tersebut sebelum terjadi kanker.

Baca juga: Perlunya Berhati-hati dalam Penggunaan Lensa Kontak untuk Menghindari Penyakit pada Mata

Ilustrasi kanker payudara, menurut Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS seseorang yang memiliki bakat gen kanker bisa melakukan pencegahan
Ilustrasi kanker payudara, menurut Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS seseorang yang memiliki bakat gen kanker bisa melakukan pencegahan (Tribunwow.com)

Baca juga: Pentingnya Menjaga Oral Hygiene Agar Tidak Timbul Permasalahan pada Rongga Mulut

Penjelasan Chairman of Eka Tjipta Widjaja Cancer Center, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS dan Konsultan Bedah Onkologi Eka Hospital BSD, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Sehat edisi 23 April 2022.

(Tribunhealth.com/DN)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved