Breaking News:

dr. Fariz Nurwidya: Penderita Asma Memiliki Saluran Pernapasan Sensitif Dibandingan Orang Tanpa Asma

Asma merupakan penyakit pernapasan yang ditandai dengan keluhan sulit bernafas, dan batuk-batuk. Penderita asma juga sering merasa nyeri pada dada.

health.grid.id
ilustrasi penderita asma 

TRIBUNHEALTH.COM - Asma ialah penyakit pernapasan yang ditandai dengan adanya penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan seseorang sulit bernafas.

Selain membuat sulit bernafas, asma bisa menimbulkan gejala lain seperti mengi, batuk-batuk, dan nyeri dada.

Perlu dipahami bahwa penderita asma memiliki saluran pernafasan yang lebih sensitif dibandingkan dengan orang tanpa asma.

Ketika paru-paru teriritasi pemicu seperti asap rokok, bulu binatang, debu, aktivitas fisik, infeksi virus, udara dingin dan paparan zat kimia, maka otot saluran pernafasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat salura pernafasan menyempit.

ilustrasi penderita asma
ilustrasi penderita asma (health.grid.id)

Baca juga: HIV Tidak Menular Lewat Pemakaian Toilet Bersama, Simak Ulasan Medical Sexologist

Peradangan membuat sel di saluran pernapasan lebih banyak memproduksi lendir dari biasanya.

Lendir ini akan semakin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan penderitanya untuk bernapas lega.

Sebagai suatu penyakit kronik, target terapi asma adalah untuk mempertahankan paru-paru dan mencegah serangan yang mengancam jiwa.

Salah satu penyakit penyerta yang sering menjadi pemicu serangan asma adalah penyakit saluran cerna.

Contoh penyakit saluran cerna yaitu saat asam lambung naik ke tenggorokan dan memicu serangan asma, sehingga saluran nafas mengecil dan muncul mengi.

Baca juga: Bleaching Bukan Untuk Memutihkan Gigi, Ketahui Penjelasannya dari drg. Ummi Kalsum, MH.Kes., Sp.KG

Bisa dilakukan spirometri secara rutin, dan spirometri akan dievaluasi selama 3 bulan.

Ketika tidak terjadi pandemi, dokter akan mengontrol dalam 3 bulan.

Jika kekontrolan baik, penggunaan obat yang relevan jarang, maka dokter bisa mengatur obat.

Namun, dijaman pandemi seperti sekarang yang bisa dilakukan adalah pemberian arus puncak espirasi dan bisa dilakukan oleh peronal device milik pasien.

APE (arus puncak espirasi) bisa diperiksa dirumah dan device tersebut milik pasien, sehingga tidak dipertukarkan dengan pasien lain.

Baca juga: Cara Deteksi Trombosit yang Rendah dari dr. Lugyanti Sukrisman, SpPD-KHOM

Dari hal tersebut dokter bisa menilai bagaimana derajat diameter saluran nafas melalui hasil arus puncak espirasi.

Apabila penderita asma juga mengalami kembung, maka memerlukan penata laksanaan khusus dan membutuhkan evaluasi.

Karena masalah kembung tidak bisa diatasi, maka bisa menyumbang peningkatan frekuensi serangan pada penderita asma.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV, bersama dengan dr. Fariz Nurwidya Sp.P. Seorang dokter spesialis paru. Selasa (18/8/2020)

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved