Breaking News:

Pernikahan Dini Memicu Terjadinya Perceraian, Psikolog Sebut Perlu Kesiapan Secara Mental

Psikolog, Irma Gustiana ungkap terdapat perbedaan antara usia kronologis dengan usia mental jika melakukan pernikahan dini.

kompasiana.com
Ilustrasi pernikahan dini di kalangan remaja 

TRIBUNHEALTH.COM - Sebelum melakukan pernikahan dini, tentunya ada banyak aspek yang perlu diperhatikan.

Banyak sekali hal-hal yang perlu dipertimbangkan terkait kesiapan secara mental.

Umumnya rata-rata pernikahan dini dilakukan di bawah usia 19 tahun.

Baca juga: Sikat Gigi Kurang Tepat Bisa Sebabkan Gigi Berlubang, Begini Penjelasan drg. Zaida Dahlia Wattimena

 Sebenarnya usia tersebut masih dalam tahap perkembangan anak remaja yakni remaja menengah sampai remaja akhir.

Psikolog memaparkan jika pada usia tersebut anak masih labil.

Ilustrasi pernikahan dini yang meningkat selama pandemi
Ilustrasi pernikahan dini yang meningkat selama pandemi (regional.kompas.com)

Hal ini disampaikan oleh Psikolog, Irma Gustiana yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Ayo Sehat.

"Jadi kemampuan mereka untuk mengambil keputusan, berpikir logis, regulasi emosi masih terbatas," pungkas Irma.

Sehingga ketika terdapat isu dalam rumah tangga tentu akan memicu persoalan yang berbeda.

Baca juga: Apakah Ada Kaitannya antara Gerd dengan Asam Urat? Begini Jawaban dr. Tan Shot Yen

Psikolog mengungkapkan jika pernikahan dini memicu terjadinya perceraian dini dan memungkinkan ke arah KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga.

Kondisi ini sangat potensial terjadi.

Inilah mengapa tidak disarankan untuk melakukan pernikahan dini.

Irma mengatakan jika terdapat perbedaan antara usia kronologis dengan usia mental.

Ilustrasi pernikahan dini
Ilustrasi pernikahan dini (Pixabay)

Usia kronologis bisa diartikan sebagai usia kalender.

"Katakanlah usianya mungkin 25 tapi secara mental bisa saja umur 30," tambahnya.

Kematangan mental berkaitan erat dengan kemampuan berfikir yang relatif rasional.

Baca juga: 4 Gejala Sembelit dan Kemungkinan Penyebabnya, Kurang Makan Serat hingga Efek Samping Obat

Dimana sudah bisa meregulasi emosinya dan membuat prioritas dalam kehidupannya.

Paling utama yakni memiliki manajemen yang baik, dimana ketika terdapat persoalan ia mampu untuk berpikir tenang dan kemudian bisa responsif terhadap persoalan tersebut.

Ilustrasi pernikahan dini
Ilustrasi pernikahan dini (Pixabay)

"Setiap orang memang berbeda-beda tergantung pada persoalan hidup, tergantung pada karakter dan bagaimana interaksi sosialnya dengan lingkungan sosial seperti pola asuh orang tua salah satunya," ungkapnya.

Baca juga: dr. Reisa Broto Asmoro Ajak Masyarakat Jadikan 2022 Sebagai Tahun Terakhir Pandemi di Indonesia

Penjelasan Psikolog, Irma Gustiana dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Ayo Sehat edisi 09 Juni 2021.

(Tribunhealth.com/Dhiyanti)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved