TRIBUNHEALTH.COM - Meningitis terkadang sulit dikenali karena penyakit ini memiliki gejala awal yang hampir sama dengan flu, yakni seperti demam dan sakit kepala.
Meni adalah selaput pembungkus otak.
Apabila pembungkus otak ini meradang dengan berbagai macam penyebab seperti virus, kuman, bakteri, jamur, parasit maka bisa menyebabkan peradangan.
Meningitis adalah adanya infeksi pada selaput pembungkus otak.
Sehingga peradangan selaput otak menimbulkan gejala-gejala yang luar biasa pada otak.

Baca juga: Seseorang dengan Penyakit Paru Harus Lebih Waspada Jika Terpapar Covid-19
Meningitis yang disebabkan oleh infeksi virus disebut dengan meningitis virus.
Secara klasifikasi akan dibagi menjadi jenis cairan yang diproduksi oleh kuman ada 2, yakni meningitis serosa dan meningitis purulenta.
Meningitis serosa adalah meningitis yang diproduksi kuman sehingga menghasilkan cairan berwarna kuning jernih.
Pada meningitis purulenta adalah meningitis yang menghasilkan cairan kuman berwarna hijau atau biasa disebut dengan nanah.
Meningitis purulenta disebut dengan meningitis bakteri.
Berbeda dengan meningitis serosa, yang bisa disebabkan oleh virus, jamur, dan salah satu jenis bakteri yang menghasilkan cairan seperti virus yaitu bakteri TBC.
Baca juga: Benarkah Childfree Termasuk Keputusan yang Salah? Begini Pandangan Psikolog
Meningitis yang disebabkan oleh bakteri TBC, dimasukkan kedalam golongan meningitis serosa, bukan pada meningitis bakteri.
Apabila meningitis disebabkan oleh periode waktu, maka ada meningitis akut, meningitis sub-akut, dan meningitis kronis.
Meningitis akut terjadi secara mendadak, dan konsepnya berkisar 7 hari sampai 2 minggu.
Pada meningitis akut, terjadi selama 2 minggu hingga 1 bulan.
Meningitis yang lebih dari 1 bulan atau jangka waktu yang panjang perjalanan penyakitnya disebut dengan meningitis kronis.
Gejala dari meningitis ada yang ringan sampai dengan berat tergantung dengan jenis kuman, imunitas pasien, dan percepatan dari pengobatan.
Percepatan pengobatan sangat mempengaruhi klinis pasien ke depan.
Ini disampaikan pada channel YouTube Tribun Lampung, bersama dengan dr. Zam Zanariah, Sp.S., M.Kes. Dokter RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Rabu (16/12/2020)
(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)