Breaking News:

Dokter: Gangguan Kecemasan yang Tidak Terkontrol Bisa Berkembang Menjadi Gangguan Kesehatan Mental

Kondisi kecemasan yang tidak bisa dikontrol, mungkin saja bisa risiko berkembang menjadi suatu gangguan kesehatan mental.

Freepik
Ilustrasi kecemasan sosial yang tidak bisa dikontrol 

TRIBUNHEALTH.COM - Gangguan kecemasan seringkali memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Dalam penelitian disebutkan bahwa kita saja yang tidak memiliki riwayat gangguan kecemasan ketika berhadapan dengan pandemi, kita menjadi memiliki kecenderungan kecemasan yang berlebihan.

Bahkan kita mengalami social anxiety meskipun tidak dalam taraf gangguan.

Dilansir oleh Tribunhealth.com , Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Sylvana Evawani  menjelaskan hal itu dalam tayangan YouTube KOMPASTV program AYO SEHAT edisi 09 Juli 2021, terkait cara mengatasi gangguan kecemasan sosial.

Baca juga: Memahami Perbedaan MPASI Tunggal dan 4 Bintang yang Diberikan pada Anak, Begini Penjelasan Dokter

Jika kondisi ini tidak bisa dikontrol, mungkin saja ada risiko berkembang menjadi suatu gangguan kesehatan mental.

Namun kita perlu melihat faktor-faktor lainnya.

Artinya dengan merasa cemas saat ini akibat faktor lingkungan.

Akibat adanya faktor pandemi.

Ilustrasi gangguan kecemasan sosial yang menurunkan rasa percaya diri
Ilustrasi gangguan kecemasan sosial yang menurunkan rasa percaya diri (tribunnewswiki.com)

Jika memiliki faktor lain, dia memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan cemas.

Dokter harus melihat kondisi tersebut.

Ketika mengalami emosi yang negatif, emosi cemas, tidak serta merta kita langsung mengalami gangguan.

Ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan.

Kita bisa merefleksi diri.

Ada saat-saat ketika pandemi, kita bisa stay positive.

Dalam kondisi pandemi rasa cemas bisa meningkat.

dr. Sylvana Evawani menyarankan untuk memfilter.

Jadi kita memberi waktu kapan kita perlu melihat berita, dan pastikan sumbernya.

Baca juga: Dokter Jelaskan Aturan Pemberian MPASI yang Sesuai dengan Kebutuhan Anak

Jika ditanya apakah boleh melihat berita, dokter mengatakan jika kita boleh melihat berita.

Namun jika berita tersebut mulai mengganggu, sebaiknya dibatasi.

Kita harus membatasi berita atau sumber informasi yang benar-benar terpercaya.

Ada baiknya kita bicarakan rasa kekhawatiran tersebut dengan orang lain.

Bisa juga melakukan konsultasi.

Penjelasan Dokter Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Sylvana Evawani dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program AYO SEHAT edisi 09 Juli 2021.

(Tribunhealth.com/Dhiyanti)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved