Breaking News:

Dokter Jelaskan Tahapan Menjadi Pendonor Plasma Konvalesen untuk Penderita COVID-19, Simak Ulasannya

Penerima transfusi darah bukan berarti tidak boleh menjadi pendonor. Penyitas yang di vaksin juga bisa menjadi pendonor.

Kompas.com
Ilustrasi penderita COVID-19 yang menerima transfusi darah dan plasma konvalesen 

TRIBUNHEALTH.COM - Mantan penderita COVID-19 yang pernah mendapatkan donor konvalesen dan donor darah, tidak bisa mendonorkan plasmanya secara langsung setelah dinyatakan sembuh.

Pendonor baru bisa mendonorkan plasmanya setelah 3 bulan kemudian.

"Sebenarnya bukan tidak boleh, akan tetapi harus ada waktu jeda," ujar dr. Linda.

Dilansir oleh Tribunhealth.com penjelasan Inisiator Terapi Plasma Konvalesen, dr. Theresia Monica Rahardjo dan Kabid unit donor darah PMI Pusat, dr. Linda Lukitari Waseseo dalam tayangan YouTube KOMPASTV program ROSI edisi 08 Juli 2021, dokter jelaskan tahapan menjadi pendonor plasma konvalesen.

Waktu jeda harus 3 bulan.

Hal ini dikarenakan dikhawatirkan ada infeksi menular akibat transfusi.

Baca juga: Dokter Spesialis THT Sebut Jika Radang Tenggorokan Bisa Terjadi Berulang, Makanan Juga Memengaruhi

Ilustrasi pendonor plasma konvalesen
Ilustrasi pendonor plasma konvalesen (Tribunnews.com)

Infeksi menular transfusi darah yang bisa menular adalah hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan HIV AIDS.

Kita ketahui selama ini ada infeksi menular melalui transfusi darah.

Bukan berarti peraturan tersebut kontradiktif atau menghambat.

Namun untuk kebaikan semuanya.

Halaman
12
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved