Trend dan Viral

Cuma Berijazah SMA, Pria Surabaya Praktik Dokter dengan Gaji Rp 7 Juta, Terbongkar 2 Tahun Kemudian

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Santoso (atas kiri) menjalani sidang kasus dokter gadungan.

TRIBUNHEALTH.COM - Seorang dokter gadungan di Surabaya baru terbongkar setelah sempat praktik selama 2 tahun.

Bahkan selama kurun waktu tersebut, dia menerima gaji Rp 7 juta per bulannya, belum termasuk tunjangan lain.

Padahal dirinya hanya memiliki ijazah SMA.

Anehnya kasus ini tidak terendus, bahkan pihak HRD juga tidak menyadari bahwa pria bernama Susanto itu adalah dokter gadungan.

Kasus ini baru terkuak saat perusahaan mengurus perpanjangan kontrak kerja Santoso.

Kini kasus ini tengah di bawah ke meja hijau dan sedang berjalan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Dilansir TribunHealth.com dari Surya, berikut ini fakta-faktanya.

Baca juga: Niat Membantu, Warga Malah Bikin Pemilik Sound Rugi Ratusan Juta, Rusak Disiram Air saat Kebakaran

Kronologi

ILUSTRASI Dokter gadungan (sajiansedap.grid.id)

Terungkap, kasus ini bisa terjadi bermula dua tahun lalu PT PHC membuka lowongan kerja dan merekrut pegawai secara online.

Santoso tertarik melihat lowongan tersebut. Trik lama untuk menipu digunakan kembali.

Untuk bisa mengisi formulir pendaftaran dia kemudian mencari dokter di media sosial Facebook.

Hingga pada akhirnya Santoso menemukan akun dr. Anggi Yurikno, seorang dokter asal Bandung.

Lalu, semua identitas dokter yang asli itu dicuri oleh Santoso untuk digunakan melamar kerja.

Berkat dokumen fiktif itu, Santoso diterima kerja.

Baca juga: VIRAL Bayi Merangkak Keluar dari Puing Truk yang Kecelakaan Maut, Hampiri Ibu yang Masih Terjepit

Kontrak bakal diperpanjang 7,5 tahun

Santoso (atas kiri) menjalani sidang kasus dokter gadungan. (dok Sidang di PN Surabaya)

Direktur Utama PT PHC dr. Subardjo mengaku telah kecolongan.

Bahkan, sebelum kasus ini terungkap Santoso rencananya akan mendapat kontrak kerja selama 7,5 tahun.

Kendati tertipu, dia memastikan tidak ada pasien yang menjadi korban.

"Dia tugas sebagai dokter umum di klinik OHiH. Melayani tes kesehatan pekerja Pertamina sebelum kerja. Tugasnya hanya mengecek kesehatan pekerja, bukan memberi resep obat," ujarnya.

PT PHC berharap kasus tersebut bisa dijadikan pelajaran, terutama bagi perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja, ada baiknya teliti memeriksa dokumen-dokumen pelamar kerja.

Baca juga: Sarapan Penting untuk Penderita Diabetes, Menu yang Tepat Bisa Mencegah Lonjalan Gula Darah

Halaman
12