Breaking News:

BAB Dibantu Obat Pencahar Terus Menerus, Bolehkah? Ini Tanggapan dr. Kaka Renaldi, Sp.PD, KGEH.

frekuensi buang air besar yang normal sebenarnya tidak hanya sebatas satu hari sekali saja. Melainkan juga bisa 3 hari sekali.

jabar.tribunnews.com
Ilustrasi minum obat 

TRIBUNHEALTH.COM - Telah diketahui bersama, bahwa idealnya setiap orang bisa melakukan buang air besar secara rutin setiap hari.

Namun jika tidak memungkinkan, setidaknya 3 kali dalam seminggu.

Untuk mengupayakan hal tersebut, terkadang tidak mudah untuk dilakukan oleh sebagian orang.

Baca juga: Cegah Konstipasi (Susah Buang Air Besar), Dokter Sarankan Lakukan Ragam Kebiasaan Ini Setiap Hari

Akhirnya memutuskan untuk mengonsumsi obat pencahar agar bisa buang air besar.

Lantas apakah tindakan ini diperbolehkan?

Ilustrasi obat pencahar
Ilustrasi obat pencahar (pixabay.com)

Dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube KompasTV, dr. Kaka Renaldi, Sp.PD, KGEH memberikan jawabannya.

Menurut penjelasannya, frekuensi buang air besar yang normal sebenarnya tidak hanya sebatas satu hari sekali saja. Melainkan juga bisa 3 hari sekali.

Baca juga: Dokter Sebut Jika Perdarahan saat Buang Air Besar Kemungkinan Disebabkan Ada Gangguan Saluran Cerna

Mengingat, kontraktivitas saluran cerna setiap orang berbeda-beda.

"Ada yang normal, sangat cepat (sehari 2 sampai 3 kali tetapi tidak diare), serta ada yang lambat," papar Kaka.

Ilustrasi seseorang yang sedang BAB
Ilustrasi seseorang yang sedang BAB (freepik.com)

Baca juga: Benarkah BAB yang Kurang Baik Menjadi Penyebab Terjadinya Konstipasi? Berikut Penjelasan Dokter

Bila sudah melebihi batas waktu 3 hari belum kunjung buang air besar, maka ia tak mempermasalahkan bila mengonsumsi obat pencahar.

2 dari 2 halaman

Pencahar aman dikonsumsi dengan ketentuan sesuai dengan indikasi.

Namun bila kesulitan BAB terus-menerus, jangan segan untuk mencari tahu penyebabnya.

Baca juga: Orangtua Perlu Mengetahui Tanda dan Gejala Diare pada Anak, Begini Penjelasan dr. Harsono Salimo

Jika sudah lebih dari 15 hari, maka dapat didiagnosa mengalami Konstipasi kronik.

Hal ini tentu harus dievaluasi dengan pemeriksaan kolonoskopi dan berbagai pemeriksaan penunjang lainnya.

ilustrasi seseorang yang mengalami konstipasi
ilustrasi seseorang yang mengalami konstipasi (health.kompas.com)

Baca juga: Selain Alami Nyeri, Penderita Gangguan Saluran Cerna Juga Bisa Alami Konstipasi Hingga Hematochezia

Umumnya kondisi konstipasi ini disebabkan oleh radang usus atau polip.

Namun jika ditelusuri tidak ditemukan adanya gangguan, dapat diartikan adanya masalah fungsional atau mutilitasnya terganggu.

Baca juga: Haruskah Buang Air Besar Setiap Hari? Begini Penjelasan Dokter

Keadaan ini tentu akan menentukan pengobatan selanjutnya.

Maka untuk mengantisipasi kondisi berlanjut semakin parah, segera lakukan deteksi dini.

Penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, Kaka Renaldi ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube KompasTV.

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved