Breaking News:

Sepeda untuk Penyemangat Pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC-RO) Menuntaskan Pengobatan

Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia.

Dok. Yayasan Pejuang Tangguh (PETA)
Pasien TBC RO Dampingan Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) 

TRIBUNHEALTH.COM - Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit infeksi yang berpotensi serius.

Penyebab Tuberkulosis (TBC) adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (Laporan WHO TBC Global 2021) dengan estimasi kasus TBC sebesar 824.000 dan 93.000 kematian per tahunnya.

Pada tahun 2020, di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 715 orang terdiagnosis TBC Resistan Obat (TBC RO) dan hanya 549 orang diantaranya yang memulai pengobatan TBC RO (data dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, September 2021).

Baca juga: Apa Benar Pria yang Menderita Hernia Menjadi Tidak Subur? Begini Tanggapan dr. Andreas Cahyo Nugroho

Selain itu, pasien TBC RO 2018 yang sembuh dan lengkap pengobatan masih rendah, yakni sebesar 45%.

Keberhasilan pengobatan pasien TBC RO tidak hanya dilihat dari sisi pengobatannya saja namun dari semua aspek, salah satunya dari aspek sosial ekonomi.

Kendala ekonomi menjadi salah satu kendala dalam keberhasilan pengobatan pasien.

Pasien TBC RO di Jakarta Utara yang mendapat dampingan Yayasan Pejuang Tangguh (PETA)
Pasien TBC RO di Jakarta Utara yang mendapat dampingan Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) (Dok. Yayasan Pejuang Tangguh (PETA))

Melihat situasi tersebut, Yayasan Pejuang Tangguh (PETA), organisasi pasien penyintas TBC RO di DKI Jakarta yang juga mendampingi pengobatan pasien, berupaya agar seluruh pasien yang didampingi bisa menyelesaikan pengobatan hingga tuntas dan bisa memutus mata rantai penularan TBC RO di DKI Jakarta.

Salah satu pasien TBC RO di Jakarta Utara yang saat ini sedang menjalani pengobatan di RSPI Sulianti Saroso bernama J (33).

J adalah pasien dampingan Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) yang saat ini belum bekerja.

Sebelumnya, J berprofesi sebagai pemulung yang dalam kesehariannya memperoleh pendapatan dari mengumpulkan botol-botol bekas atau barang bekas lainnya untuk dijual.

J tinggal di daerah Kecamatan Pademangan dengan orang tua dan 2 anaknya.

Jarak antara RSPI Sulianto Saroso cukup jauh dan J mengalami kesulitan dalam hal transportasi maupun secara finansial untuk memulai pengobatan.

Namun, J mempunyai semangat yang tinggi untuk berobat sampai sembuh.

Pada awal masa pengobatan, J diantar jemput oleh Desi, salah satu pendamping pasien dari PETA, dari rumah ke RSPI Sulianti Saroso untuk minum obat.

Melihat semangat J yang luar biasa untuk sembuh, PETA mengadakan penggalangan dana untuk memudahkan J dalam mengakses layanan dan pengobatan TBC RO ke RSPI Sulianti Saroso.

Dari hasil penggalangan dana tersebut terkumpul donasi sebesar Rp 1.500.000 untuk dibelikan sepeda dan paket sembako untuk J.

Baca juga: dr. Andreas Cahyo Nugroho, Sp.B Paparkan Pengobatan yang Bisa Dilakukan oleh Pria Penderita Hernia

Saat ini J sudah rutin menjalani pengobatan TBC RO selama 1 bulan.

“Alhamdulilah saya mendapatkan sepeda dari Hamba Allah melalui bantuan teman-teman PETA sehingga dapat membantu saya untuk bisa rutin pengobatan di rumah sakit,” ujar J pasien TBC RO dampingan PETA, yang tetap bisa mengumpulkan botol plastik bekas air minum kemasan dalam perjalanannya setiap hari ke rumah sakit untuk berobat.

PETA atau Yayasan Pejuang Tangguh merupakan organisasi pasien penyintas TBC RO sehingga pendampingan yang dilakukan juga berdasarkan pengalaman para anggota PETA dalam menyelesaikan pengobatan.

Halaman
12
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved