Breaking News:

Tak Hanya Sulit Bernafas, Asma Dapat Menimbulkan Gejala Mengi, Batuk, dan Nyeri Dada

Asma merupakan jenis penyakit yang ditandai dengan adanya penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan sulit bernafas.

health.kompas.com
ilustrasi penderita asma 

TRIBUNHEALTH.COM - Asma ialah jenis penyakit yang ditandai dengan adanya penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan sulit bernafas.

Selain membuat penderitanya sulit bernafas, asma bisa menimbulkan gejala lain seperti mengi, batuk-batuk, dan nyeri dada.

Penderita asma memiliki saluran pernafasan yang lebih sensitif dibandingkan dengan orang tanpa asma.

Ketika paru-paru teriritasi pemicu seperti asap rokok, bulu binatang, debu, aktivitas fisik, infeksi virus, udara dingin dan paparan zat kimia, maka otot saluran pernafasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat salura pernafasan menyemput.

Peradangan membuat sel di saluran pernapasan lebih banyak memproduksi lendir dari biasanya.

ilustrasi penderita asma
ilustrasi penderita asma (health.kompas.com)

Baca juga: drg. Citra, MMRS Sarankan untuk Melakukan Pemasangan Gigi Palsu di Dokter Gigi Bukan di Ahli Gigi

Lendir ini akan semakin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan penderitanya untuk bernapas lega.

Sebagai suatu penyakit kronik, target terapi asma adalah untuk mempertahankan paru-paru dan mencegah serangan yang mengancam jiwa.

Salah satu penyakit penyerta yang sering menjadi pemicu serangan asma adalah penyakit saluran cerna.

Contoh penyakit saluran cerna yaitu saat asam lambung naik ke tenggorokan dan memicu serangan asma, sehingga saluran nafas mengecil dan muncul mengi.

Bisa dilakukan spirometri secara rutin, dan spirometri akan dievaluasi selama 3 bulan.

Ketika tidak terjadi pandemi, dokter akan mengontrol dalam 3 bulan.

Jika kekontrolan baik, penggunaan obat yang relevan jarang, maka dokter bisa mengatur obat.

Baca juga: Begini Ciri-ciri Anda Memiliki Kulit yang Sehat, Simak Ulasan dr. Lusiyanti, M.Med, Sp.KK

Namun, dijaman pandemi seperti sekarang yang bisa dilakukan adalah pemberian arus puncak espirasi dan bisa dilakukan oleh peronal device milik pasien.

APE (arus puncak espirasi) bisa diperiksa dirumah dan device tersebut milik pasien, sehingga tidak dipertukarkan dengan pasien lain.

Dari situ dokter bisa menilai bagaimana derajat diameter saluran nafas melalui hasil arus puncak espirasi.

Apabila penderita asma juga mengalami kembung, maka memerlukan penata laksanaan khusus dan membutuhkan evaluasi.

Karena masalah kembung tidak bisa diatasi, maka bisa menyumbang peningkatan frekuensi serangan pada penderita asma.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV, bersama dengan dr. Fariz Nurwidya Sp.P. Seorang dokter spesialis paru. Selasa (18/8/2020)

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved