Breaking News:

Penyebab Retarded Ejaculation Multifaktor, Begini Penjelasan dr. Binsar Martin Sinaga, FIAS

Retarded ejaculation tidak berkaitan dengan turunnya hormon testosteron. Penderita retarded ejaculation memiliki ereksi dan libido yang bagus.

coupleromantic
Ilustrasi - Kehidupan seksual pria dan wanita 

TRIBUNHEALTH.COM - Retarded ejaculation tidak berkaitan dengan turunnya hormon testosteron.

Penderita retarded ejaculation memiliki ereksi dan libido yang bagus.

Dilansir oleh Tribunhealth.com penjelasan Medical Sexologist, dr. Binsar Martin Sinaga dalam tayangan YouTube Tribunnews.com program Talkshow Edukasi Seksual tentang faktor penyebab retarded ejaculation.

Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah penderita tidak bisa mengalami proses ejakulasi secara normal di dalam vagina pasangannya.

Baca juga: Dok, Apakah Benar Makanan yang Dikonsumsi Anak Dapat Mempengaruhi Masa Pubertasnya?

Baca juga: Apa yang Menjadi Penyebab Seseorang Terjangkit Batu Empedu, Dok?

Pada saat ereksi dan bisa memuaskan pasangannya, penderita tidak bisa ejakulasi.

Sehingga pada akhirnya penderita harus masturbasi.

Dokter tidak bisa mengatakan jika retarded ejaculation disebabkan oleh suatu penyakit.

Ilustrasi masalah reproduksi pria
Ilustrasi masalah reproduksi pria (Pixabay)

Sama halnya dengan penyakit vaginismus yang terkunci vaginanya.

Biasanya yang bermasalah di otak penderita.

Artinya di pusat susunan saraf.

Pusat susunan saraf dimana ternyata ada satu memori atau satu hal yang mungkin mengintimidasi penderita.

Sehingga penderita tidak bisa menerima penetrasi penis pasangan prianya pada saat hubungan seksual, hal ini terjadi pada penderita vaginismus.

Tetapi pada pria ternyata ia tidak bisa ejakulasi di dalam vagina pasangan wanitanya.

Baca juga: Mengapa Gigi Menjadi Sensitif? Berikut Penyebabnya Menurut drg. Sri Pamungkas Sigit Nardiatmo

Baca juga: Perubahan Hormon Ibu Hamil Sebabkan Gigi Sensitif, Begini Penjelasan drg. Sri Pamungkas Sigit N.

Kondisi ini terjadi akibat multifaktor.

Namun ternyata multifaktor tersebut tidak disebabkan oleh suatu kondisi penyakit tertentu.

Terutama pusat susunan saraf, dalam hal ini yang dimaksud adalah otak.

Anggapan lain yang mungkin terjadi adalah berperannya faktor psikis atau kejiwaan.

Penjelasan Medical Sexologist, dr. Binsar Martin Sinaga dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribunnews.com program Talkshow Edukasi Seksual edisi 26 November 2020.

(Tribunhealth.com/Dhiyanti)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved