Breaking News:

Dokter Tegaskan Santan Punya Kandungan yang Bermanfaat, Tak Perlu Diganti dengan Susu

Dalam hal ini, dr Tan Shot Yen menjelaskan kolesterol susu lebih tinggi dari pada santan

Pixabay
Ilustrasi santan kelapa 

TRIBUNHEALTH.COM - Akhir-akhir ini muncul tren mengganti santan dengan bahan lain, misalnya susu.

Hal itu banyak dilakukan karena santan dianggap tidak sehat.

Bahkan, santan dipercaya menjadi pemicu kolesterol.

dr Tan Shot Yen menyayangkan hal ini.

Hal itu disampaikan oleh dokter ahli gizi komunitas tersebut dalam program Malam Minggu Sehat Tribunnews yang tayang live di YouTube pada Sabtu (1/5/2021).

Apa lagi ketika menggantikan santan dengan produk ultraproses.

Baca juga: Sajian Aman Lebaran: Sering Dianggap Penyebab Kolesterol, Santan Rupanya Memiliki Keunggulan Ini

Baca juga: Masak Nasi di Magic Com Dicampur Santan, Apakah Aman? Berikut Penjelasan Ahli Gizi

Ilustrasi masakan bersantan
Ilustrasi masakan bersantan (Ilustrasi masakan bersantan)

Padahal, santan sebenarnya memiliki banyak manfaat.

Asal dikonsumsi dalam jumlah yang pas, dr Tan mengatakan tidak menjadi masalah.

dr Tan Shot Yen mencontohkan ketika santan diganti dengan susu sapi.

Dalam hal ini, energinya memang lebih banyak santan.

Per 100 gram santan memiliki energi 122 kkal, sementara susu sapi dalam jumlah yang sama sebanyak 61 kkal.

"Itu sebabnya kalorinya tinggi. Nah itu barangkali ditakutin sama orang," kata dr Tan.

ilustrasi mengganti santan dengan susu
ilustrasi mengganti santan dengan susu (kompas.com)

Baca juga: Anak Sehat dengan Makanan Pendamping Air Susu Ibu, Begini Syarat Memberi MPASI

Baca juga: Dianggap Bisa Turunkan Kolesterol, Bolehkan Oatmeal Dimakan dengan Gula dan Susu?

Kendati demikian, susu sapi justru yang sudah pasti mengandung kolesterol.

"Kenapa disebut ada, ya karena dia berasal dari hewan."

"Jadi kalau anda kejeblos mau bikin gulai, malah pakai susu sapi, wah saya bilang itu mah namanya kemunduran," jelasnya.

Yang perlu diperhatikan adalah cara menggunakan santan dengan bijak.

Pertama, dr Tan mengingatkan membuat rencana minggu.

Misalnya, satu minggu masak makanan bersantan satu kali.

Kedua, makanan bersantan tak boleh dihangatkan berulang.

Baca artikel lain seputar kesehatan umum di sini

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved