Breaking News:

dr. Isman Firdaus Sebut Faktor Resiko Berhubungan Kuat dengan Terjadinya Penyakit Jantung Koroner

Jantung koroner merupakan kondisi pembuluh darah utama yang memberi pasokan oksigen, darah, dan nutrisi mengalami kerusakan disebabkan peradangan.

freepik.com
ilustrasi penderita jantung koroner 

TRIBUNHEALTH.COM - Serangan jantung merupakan kondisi darurat medis yang berpotensi mengancam jiwa dan mengancam siapa saja.

Artinya penyakit jantung yang biasa disebut dengan penyakit orangtua tidak lagi sepenuhnya benar.

Pada prinsipnya serangan jantung bisa terjadi kapan saja.

Bisa terjadi saat beraktivitas, sedang tidur, terutama di pagi hari.

Yang paling penting, kita memastikan sebelum berolahraga apakah kondisi kesehatan kita fit atau tidak.

Kedua, pastikan bahwa tidak ada resiko kardiovaskular, kencing manis, merokok, hipertensi atau darah tinggi, kolesterol, dan riwayat keluarga.

ilustrasi penderita jantung koroner
ilustrasi penderita jantung koroner (freepik.com)

Baca juga: Setelah Terpapar Virus Covid-19, Bolehkah Melakukan Vaksinasi Tahap 2? Berikut Ulasan Dokter

Apabila salah satu penyakit tersebut ada, sebaiknya melakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu dengan melakukan uji latih jantung terutama usia-usia 30 tahun.

Pemicu serangan jantung menyebabkan terjadinya plak atau serangan jantung, karena ada faktor resiko dan bakat.

Faktor resiko berhubungan kuat dengan terjadinya penyakit jantung koroner, salah satunya merokok, kencing manis, dan juga hipertensi.

Lalu disusul dislipidemia dan riwayat keluarga.

Jika ada salah satu dari faktor resiko tersebut, diharapkan segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan pembuluh darah aman dengan uji latih jantung.

Baca juga: Terlalu Banyak Menggunakan Media Sosial Bisa Turunkan Self Esteem, Cemburu pada Postingan Orang Lain

Namun ada beberapa kematian mendadak yang bukan karena faktor resiko tersebut, salah satunya karena ada kelainan gangguan aritmia.

Misalkan dari gambaran EKG terdapat Brugada, yaitu gambar rekaman jantung yang memiliki resiko terjadi ventrikel fibrilasi.

Semua kondisi baik dan tidak ada masalah dengan gangguan listrik jantung, pastikan tubuh kita fit atau tidak.

Kelelahan akan juga menyebabkan memicu terjadinya serangan jantung.

Ada beberapa poin penting bahwa aktivitas fisik atau olahraga dengan intensitas yang endurance tidak konstan bisa memicu terjadinya serangan jantung.

Aktivitas fisik yang baik adalah yang tidak ada gejolak naik turun intensitasnya yakni dengan aerobik seperti berenang, jalan cepat, dan bersepeda.

Baca juga: dr. Tan Shot Yen Jelaskan Mengonsumsi Makanan GMO dapat Membahayakan Kesehatan

Sering terjadi intensitas yang berubah terlalu cepat seperti sepak bola.

Seperti contoh setelah menendang bola, lari lalu berhenti yakni intestitas terlalu tinggi dan tiba-tiba berhenti tentu beresiko jika memang ada bakat.

Saat hendak melakukan olahraga berat, pastikan kondisi jantung aman dengan melakukan pengecekan, terutama uji latih jantung.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV, bersama dengan dr. Isman Firdaus. Ketua perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular. Rabu (19/2/2020)

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved