TRIBUNHEALTH.COM - Awareness orangtua dan lingkungan penting bagi anak yang mengalami disleksia.
Disleksia merupakan gangguan bahasa yang terjadi pada anak.
Gangguan bisa berupa keterbatasan dalam mengenali dan memahami huruf dan angka, atau yang lainnya.
Penjelasan itu disampaikan dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, dalam program Ayo Sehat Kompas TV yang tayang pada Selasa (1/6/2021).
"Yang terpenting adalah awereness itu," papar dr Wiyarni, dikutip TribunHealth.com.
"Jadi bagaimana orangtua, orang terdekat dengan anak ini, untuk mengenali apakah anak ini ada kendala untuk menguasai keterampilan bahasa."
Baca juga: Tak Hanya Dialami Anak, Gangguan Belajar Disleksia Bisa Terjadi pada Orang Dewasa, Berikut Tandanya
Baca juga: Dokter Sebut Gangguan Disleksia Dipengaruhi Faktor Genetik, Bisa Diwariskan dari Orangtua

"Baik itu bahasa lisan, bahasa tulisan, atau bahasa sosial, bagaimana kita menanggapi orang lain," jelasnya.
Ketika orangtua bisa mengenali gejala yang ada, penting untuk segera berkonsultasi dengan ahli.
Setelah ada diagnosis, orangtua harus menerima keadaan anak.
"Sehingga bisa move on, untuk mulai membuka wawasannya, sehingga tahu apa yang harus diperbuat dengan keluarga yang disleksia ini," sebutnya.
Tindakan yang diambil oleh ahli bisa berbagai macam, bergantung pada usia dan hal lain.
Baca juga: Dokter Sebut Gangguan Disleksia Dipengaruhi Faktor Genetik, Bisa Diwariskan dari Orangtua
Baca juga: Bagaimana Cara Menangani Anak Disleksia Dok?

Misalnya ketika disleksia terjadi pada usia prasekolah, dokter akan melakukan intervensi untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya.
Pada anak yang sudah bersekolah, biasanya terapis akan memberikan remidiasi atau pengulangan pelajaran sehingga anak ini paham.
"Walaupun disleksia, karena IQ normal, dengan pengulangan itu tadi pelajaran ini akan bisa dikuasai juga."
"Kemudian memberikan akomodasi."
"Kalau si anak tidak bisa berlajar dengan gaya belajar tertentu, maka akan kita lakukan dengan teknik yang lain.
Biasanya anak dengan disleksia bisa lebih mudah memahami pelajaran jika menggunakan metode multisensorik.
"Jadi pendekatannya dengan berbagai macam cara. Dia melihat, merasakan, dia juga menulis, menggambar, macam-macam."
Tujuan intervensi ini adalah anak tetap percaya diri dan tidak dibully dengan kondisi yang ia miliki.
"Tentu parameternya (keberhasilan) adalah dia bisa melakukan coping strategy, seperti dengan apa yang diharapkan untuk anak seusia dia," papar dr Wiyarni.
Pada kasus disleksia ringan, dia menyebut intervensi cukup dilakukan pihak keluarga.
Akan tetapi pada kasus berat harus ada layanan khusus yang diberikan.
Baca artikel lain seputar kesehatan umum di sini.
(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)