Breaking News:

Dokter: Pendonor Plasma Konvalesen Cenderung Miliki Antibodi yang Bertahan Lebih Lama

Bagi pendonor yang sering mendonorkan plasmanya, justru memiliki kecenderungan antibodi atau kekebalannya bertahan lebih lama.

Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi | Editor: Ekarista Rahmawati
Pixabay
Ilustrasi kantong donor darah dan donor plasma konvalesen 

TRIBUNHEALTH.COM - Dokter selalu menghimbau kepada teman sejawat, untuk menyembuhkan COVID-19 membutuhkan kerendah hatian.

dr. Theresia memohon kepada temen-teman sejawat, harap memberikan atau membuat surat permohonan plasma konvalesen pada saat pasien dalam stadium sedang.

Terutama pasien-pasien yang memiliki kormobid.

Baca juga: Dokter Spesialis THT Sebut Jika Radang Tenggorokan Bisa Terjadi Berulang, Makanan Juga Memengaruhi

Dilansir oleh Tribunhealth.com, Inisiator Terapi Plasma Konvalesen, dr. Theresia Monica Rahardjo dan Kabid unit donor darah PMI Pusat, dr. Linda Lukitari Waseseo dalam tayangan YouTube KOMPASTV program ROSI edisi 08 Juli 2021,  menjelaskan efek yang ditimbulkan setelah pendonor melakukan donor plasma konvalesen.

Yakni dalam minggu pertama demam.

Paling lambat 72 jam sejak pertama kali sesak.

Ilustrasi gejala COVID-19 dimana penderita terasa sesak nafas
Ilustrasi gejala COVID-19 dimana penderita terasa sesak nafas (Kompas.com)

Sehingga pasien masih memiliki waktu untuk mendapatkan plasma konvalesen.

Bagi pendonor yang sering mendonorkan plasmanya, justru memiliki kecenderungan antibodi atau kekebalannya bertahan lebih lama.

Karena setiap kali plasma diambil, tubuh akan menghasilkan plasma yang relatif sama persis.

Termasuk komponen-komponen kekebalannya.

2 dari 2 halaman

Setelah penderita COVID-19 dinyatakan sembuh, 14 hari kemudian sudah bisa melakukan donor plasma.

Setelah donor pertama, 14 hari kemudian masih bisa menjadi pendonor plasma.

Bisa diambil karena yang diambil hanya plasma saja.

Sementara komponen lain masuk ke dalam kembali.

Baca juga: Faktor Genetik Memengaruhi Munculnya Vitiligo, Dokter: Faktor Autoimun dan Eksternal Juga Pengaruhi

Dokter menegaskan jika yang diambil hanya plasma saja yakni cairan yang berwarna kuning saja.

Jika melakukan donor plasma yang kedua, pendonor tidak lagi di screening.

Dokter hanya akan melakukan pemeriksaan titer antibodi saja.

Penjelasan Inisiator Terapi Plasma Konvalesen, dr. Theresia Monica Rahardjo dan Kabid unit donor darah PMI Pusat, dr. Linda Lukitari Waseseo dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program ROSI edisi 08 Juli 2021.

(Tribunhealth.com/Dhiyanti)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Tags:
Tribunhealth.complasma konvalesenCovid-19antibodidr. Linda Lukitari Waseso
BERITATERKAIT
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved