Breaking News:

Durasi Berhubungan Intim yang Dianjurkan menurut Kacamata Dokter

Dokter Spesialis Urologi, Dandy Tanuwidjaja menjelaskan durasi berhubungan intim yang benar.

Kompas.com
Ilustrasi pasangan suami istri-Dokter Spesialis Urologi, Dandy Tanuwidjaja menjelaskan durasi berhubungan intim yang benar. 

TRIBUNHEALTH.COM - Dokter Spesialis Urologi, Dandy Tanuwidjaja menjelaskan durasi berhubungan intim yang benar.

Dalam berhubungan intim, prinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah masing-masing pasangan bisa merasakan klimaks.

Terkait dengan durasi, jika salah satunya tidak mencapai klimaks karena ejakulasi terjadi, maka artinya tidak memenuhi ekspetasi dari pasangan.

Baca juga: Alasan Seseorang Lakukan Penyimpangan Seksual, Medical Sexologist: Tak Bisa Menahan Dorongan

Dalam sebuah penelitian, normalnya berhubungan seksual adalah cukup 5 menit saja.

Namun hal ini tergantung dengan masing-masing individu.

Karena tentunya setiap pasangan memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.

Ilustrasi pasangan yang memiliki seksualitas sehat
Ilustrasi pasangan yang memiliki seksualitas sehat (lifestyle.kompas.com)

"Ada yang lebih cepat atau lebih lambat," sambungnya dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Jabar Video.

Durasi Terkait dengan Ejakulasi Dini

Ejakulasi merupakan suatu kondisi keluarnya cairan sperma lebih cepat dari harapan pasangan.

Suatu kondisi dianggap sebagai ejakulasi dini apabila memenuhi sejumlah kriteria. Ialah:

2 dari 4 halaman

1. Waktu

Ejakulasi terjadi sebelum penetrasi atau kurang dari 1 sampai 3 menit setelah penetrasi terjadi.

Baca juga: Penyebab Manusia Lakukan Penyimpangan Seksual bersama Binatang, Simak dr. Binsar Martin Sinaga, FIAS

Pertimbangan waktu tersebut berdasarkan jenis ejakulasi dini dalam dunia medis yang disebut:

- Long live

Ejakulasi dialami setiap saat pria memulai aktivitas seksual.

"Jadi sejak muda tidak pernah mengalami ejakulasi yang normal," tambah Dandy.

- Quirt

Pada masa muda pernah mengalami ejakulasi yang normal, lalu suatu ketika mengalami ejakulasi dini.

Kondisi ini menjadi tolak ukur alasan waktu 1-3 menit menjadi landasan pengukuran waktu ejakulasi dini.

2. Pria Tidak Bisa Kontrol Ejakulasi

Ilustrasi ejakulasi dini pada pria
Ilustrasi ejakulasi dini pada pria (freepik.com)
3 dari 4 halaman

Sebenarnya pada diri seorang pria memiliki kemampuan untuk mengontrol ejakulasi.

Jadi ketika ada sensasi ejakulasi akan terjadi, normalnya setiap pria bisa mengontrol.

Jika tidak ada kemampuan untuk melakukan kontrol ini, maka masuk sebagai salah satu kriteria ejakulasi dini.

3. Mengganggu

Disebut sebagai ejakulasi dini bila kondisi ini mengganggu.

Baca juga: Dokter Tegaskan Tubektomi dan Vasektomi Tak Pengaruhi Kualitas Hubungan Intim, Tetap Bisa Ejakulasi

Dalam artian menganggu secara psikis, seperti minder, menghindari aktivitas seksual, dan mengalami ketidakharmonisan dengan pasangan.

"Jadi disebut sebagai ejakulasi dini jika memenuhi 3 kriteria tersebut," tandas Dandy.

Penanganan

Dalam penanganan ejakulasi dini, ada 3 jenis pengobatan. Yakni:

- Terapi perilaku

Ilustrasi konsultasi dokter
Ilustrasi konsultasi dokter (tribunnews.com)
4 dari 4 halaman

- Medikamentosa

- Konseling

Di antara 3 aspek di atas, terapi perilaku dan konseling sangat membutuhkan dukungan pasangan.

Jika memiliki pasangan yang cenderung menjatuhkan, maka pasien akan jatuh pada fase minder yang kerap disertai demam panggung.

Baca juga: Kenali 4 Faktor Pencetus Penyimpangan Seksual Terjadi menurut dr. Binsar Martin Sinaga FIAS

"Demam panggung dalam artian, setiap akan melakukan hubungan seksual akan minder dahulu," terang Dandy.

Jika sudah terjadi demikian akan memperburuk kondisi ejakulasi dini.

Prinsip Penanganan Ejakulasi Dini

Prinsip dasar penanganan ejakulasi dini bersifat individualis.

Artinya tidak semua penanganan pada setiap pasangan akan dilakukan dengan cara yang sama.

Karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pasien beserta pasangan dan dokter.

Ilustrasi dokter melakukan pemeriksaan kepada pasien.
Ilustrasi dokter melakukan pemeriksaan kepada pasien. (Freepik.com)

Langkah ini dilakukan untuk mencapai kesepakatan bersama terkait pengobatan yang sesuai dengan pasien.

"Kita harus sama-sama antara dokter, suami, dan istrinya untuk duduk bersama mendiskusikan kira-kira (penanganan) mana yang cocok. Selanjutnya kita arahkan ke sana," terang Dandy.

Kunci utama dalam mengatasi masalah ini adalah komunikasi.

Baca juga: Alasan Seseorang Lakukan Penyimpangan Seksual, Medical Sexologist: Tak Bisa Menahan Dorongan

"Komunikasi itu sangat penting dalam pengobatan ejakulasi dini," ucap Dandy.

Jika sudah melakukan komunikasi dengan baik pada pasangan, maka ajak pasangan untuk mendampingi pengobatan. Utamanya pada saat berkonsultasi dengan dokter.

Karena meskipun ejakulasi dini terjadi pada pria, namun mempengaruhi hubungan antar pasangan.

"Berhasil atau tidaknya terapi yang dilakukan sangat bergantung oleh komunikasi, pengertian, dan kerjasama dengan pasangan," jelas Dandy.

Pemeriksaan Ejakulasi Dini

Kondisi ini perlu dipastikan secara medis oleh dokter dengan serangkaian prosedur pemeriksaan.

Langkah pertama, dokter akan melakukan anamnesis kepada pasien (wawancara medis).

Untuk memastikan apakah kondisi pasien memenuhi kriteria ejakulasi dini.

Ilustrasi konsultasi dengan dokter
Ilustrasi konsultasi dengan dokter (Pixabay)

Lalu ditelusuri faktor penyebab yang bisa mencetuskan terkena ejakulasi dini.

Hingga kini, faktor pemicu yang paling sering didapatkan adalah psikologis.

Selain itu perlu dipastikan terkait kondisi hubungan dengan pasangan dan apakah ejakulasi dini sudah menganggu kualitas hubungan.

Pemicu Ejakulasi Dini

Ejakulasi dini lebih banyak terjadi disebabkan oleh psikis.

Meskipun ada beberapa kondisi biologis yang bisa memicu ejakulasi dini.

Baca juga: Sunat Bisa Atasi Infeksi Saluran Kemih, Benarkah? Ini Kata dr. Rizki Muhammad Ihsan, Sp. U

Misalnya:

- Infeksi saluran kencing

- Obesitas

- Disfungsi ereksi.

Penjelasan dr. Dandy Tanuwidjaja, Sp.U dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Lampung News Video.

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved