Breaking News:

WHO Tak Benarkan Negara Kaya Berikan Booster Vaksin Covid-19 untuk Orang Sehat

Larangan WHO ini juga sejalan dengan penelitian terbaru yang menyebut orang sehat tak perlu booster vaksin

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ilustrasi Vaksin - Bukti vaksin menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seluruh masyarakat, maka simak penjelasan tentang vaksinasi berikut ini. 

TRIBUNHEALTH.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak membenarkan pemberian booster vaksin Covid-19 untuk orang sehat.

Alih-alih membenarkan, WHO menyerukan negara-negara kaya untuk berhenti mendistribusikan dosis booster vaksin.

Mereka meminta negara kaya untuk memprioritaskan negara miskin agar mendapat dosis vaksin terlebih dulu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan hal itu pada sebuah briefing pers, Selasa (14/9/2021).

Dilansir TribunHealth.com dari CNBC, WHO mendorong negara yang memiliki surplus dosis vaksin untuk mengarahkannya ke negara berpenghasilan rendah.

Baca juga: WHO Prediksi Penderita Demensia Capai 78 Juta pada 2030, Tak Hanya Terjadi pada Orang Tua

Baca juga: WHO Waspadai Virus Corona Varian Mu, Cara Hindari Kekebalan Tubuh Mirip Varian Beta

ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama.
ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

"Ada negara-negara dengan cakupan vaksinasi kurang dari 2%, kebanyakan dari mereka di Afrika, yang bahkan tidak mendapatkan dosis pertama dan kedua" kata Tedros.

"Dan mulai dengan booster, terutama memberikannya pada populasi yang sehat, sangat tidak benar."

Di Afrika, hanya di bawah 3,5% dari populasi yang memenuhi syarat sepenuhnya divaksinasi, kata para pejabat.

Peluncuran booster telah dimulai di seluruh Amerika Serikat, ketika CDC telah melaporkan hampir 54% dari populasi divaksinasi.

Lebih dari 1,8 juta booster sudah diberikan, kata CDC.

Baca juga: Setelah Terpapar Virus Covid-19, Bolehkah Melakukan Vaksinasi Tahap 2? Berikut Ulasan Dokter

Baca juga: Ilmuwan Oxford Gunakan Teknologi Vaksin AstraZeneca untuk Lawan Sel Kanker

ilustrasi vaksin Covid-19
ilustrasi vaksin Covid-19 (kompas.com)

Kalaupun WHO melarang booster, distribusi vaksin ke Afrika membutuhkan biaya yang tak murah.

Untuk distribusi, setiknya akan membutuhkan investasi sekitar $ 1 miliar per tahun, kata Benediktus Oramah, Presiden dan Ketua Dewan Direksi Ekspor-Impor Afrika.

Sementara itu, beberapa penelitian juga mencoba mengungkap manfaat booster vaksin bagi orang yang sehat.

Alih-alih menyarankan, penelitian mengungkap orang sehat tak perlu mendapatkan booster, karena sudah membentuk antibodi yang cukup meski hanya dua suntikan.

Baca juga: 2 Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Berikan Perlindungan yang Cukup, Studi Terbaru Sebut Tak Perlu Booster

Baca juga: Tubuh Makin Kebal Covid-19 dengan Hybrid Immunity, Apa Itu?

Baca berita lain tentang Covid-19 dan vaksinasi di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved