Breaking News:

Waktu Luang yang Terlalu Banyak Bisa Picu Rendahnya Subjective Wellbeing

Penelitian terbaru menunjukkan terlalu banyak waktu luang justru tak memiliki dampak positif

Freepik
Ilustrasi menikmati waktu luang 

TRIBUNHEALTH.COM - Setiap orang membutuhkan waktu luang untuk istirahat dari aktivitas.

Subjective wellbeing atau kesejahteraan subjektif pada seseorang meningkat seiring bertambahnya waktu luang yang bisa didapatkan.

Namun, kecenderungan ini menjadi berbeda ketika seseorang memiliki waktu luang yang terlalu banyak.

Hal ini diungkap dalam sebuah studi yang diberitakan The Guardian, Kamis (9/9/2021).

“Sweet spot adalah waktu luang yang cukup,” kata Dr. Marissa Sharif, salah satu penulis studi dari University of Pennsylvania.

Baca juga: Sekolah Tatap Muka Segera Dibuka, Psikolog Adib Setiawan Bagikan Persiapan yang Perlu Dilakukan

Baca juga: Psikolog Adib Setiawan Ungkap Cara agar Orangtua Tidak Stres saat Anak Belajar Daring dari Rumah

Ilustrasi menikmati waktu luang
Ilustrasi menikmati waktu luang (Freepik)

“Kami menemukan bahwa memiliki terlalu banyak waktu dikaitkan dengan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah karena kurangnya rasa produktivitas dan tujuan.”

Menulis di Journal of Personality and Social Psychology, Sharif dan rekan melaporkan bagaimana mereka menganalisis hasil dari dua survei skala besar, yang melibatkan total gabungan lebih dari 35.000 peserta.

Salah satunya adalah American Time Use Survey, yang dilakukan antara 2012 dan 2013 dan menanyakan kepada peserta apa yang telah mereka lakukan dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Menghindari Stres dan Aktivitas Berlebih Termasuk Upaya Pencegahan Sleep Apnea

Baca juga: Tips Pakar Agar Stres Hilang saat Libur Kerja, Bangun Kebiasaan Baru yang Positif

Ilustrasi waktu bersantai
Ilustrasi waktu bersantai (Pixabay)

Tim menemukan bahwa subjective wellbeing meningkat dengan jumlah waktu luang hingga sekitar dua jam, namun mulai turun setelah melebihi lima jam.

Sementara itu, data dari National Study of the Changing Workforce, yang dilakukan antara tahun 1992 dan 2008, mengungkapkan bahwa di luar titik tertentu, memiliki lebih banyak waktu luang tidak lagi dikaitkan dengan subjective wellbeing yang lebih besar, tetapi tidak menurun.

Mungkin hasil ini terjadi karena hanya sedikit dari peserta yang dilaporkan memiliki lebih dari lima jam waktu luang sehari.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

 

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved