Breaking News:

Sisa Metabolisme yang Banyak Mengakibatkan Paru Bekerja Keras, Simak Ulasan R. Radyan Yaminar, S. Gz

Menurut R. Radyan Yaminar, S. Gz ada beberapa zat gizi yang diturunkan atau dibatasi, terutama makanan yang tinggi karbohidrat atau tinggi kalori.

Kompas.com
Ilustrasi paru-paru yang berkerja keras akibat penumpukkan sisa metabolisme, menurut R. Radyan Yaminar, S. Gz karbohidratternyata memiliki ampas atau sisa metabolisme 

TRIBUNHEALTH.COM - Pasien COVID-19 yang mengalami gangguan pernapasan sampai sesak akan mendapatkan penanganan yang berbeda.

Ada beberapa zat gizi yang diturunkan atau dibatasi, terutama makanan yang tinggi karbohidrat atau tinggi kalori.

Kita ketahui jika makanan tinggi karbohidrat, kalori, terutama karbohidrat sederhana seperti gula-gulan, gula batu, gula jawa, serta jenis olahannya seperti es krim, dodol, roti dengan selai manis yang terlalu banyak.

Dimana akan masuk ke dalam tubuh dan diubah menjadi glukosa dengan cepat

Baca juga: R. Radyan Yaminar, S. Gz: Pasien COVID-19 yang Tak Mau Konsumsi Apapun Dapat Menambah Beban Penyakit

Dilansir oleh Tribunhealth.com hal ini dijelaskan Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S. Gz dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk edisi 28 Agustus 2021.

Ilustrasi pasien COVID-19, menurut R. Radyan Yaminar, S. Gz
Ilustrasi pasien COVID-19, menurut R. Radyan Yaminar, S. Gz kinerja paru-paru sedang terganggu karena adanya virus(regional.kompas.com)

Dari karbohidrat tersebut ternyata memiliki ampas atau sisa metabolisme.

Pertama adalah air dan karbondioksida.

Jika kita tidak membatasi makanan yang manis, sisa metabolisme semakin banyak dan akhirnya paru-paru harus bekerja ekstra untuk mengeluarkan karbondioksida.

Padahal kinerja paru-paru sedang terganggu karena adanya virus.

Hal ini mengakibatkan kinerja paru-paru semakin berat.

Baca juga: dr. Zulfia Oktanida Syarif Sebutkan Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental, Simak Ulasannya

Sehingga dapat memperparah sesak yang dialami oleh pasien.

Kebutuhan zat gizi pasien yang bergejala dan tanpa gejala berbeda.

Terutama yang diperhatikan adalah karbohidrat sederhana.

Karbohidrat yang di utamakan adalah karbohidrat kompleks.

Profil R. Radyan Yaminar, S.Gz., Ahli Gizi Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo
Profil R. Radyan Yaminar, S.Gz., Ahli Gizi Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo (Dokumen pribadi R. Radyan Yaminar, S.Gz., Ahli Gizi Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo)

Jika pasien mengalami gejala, kita harus memperhatikan karbohidratnya.

Sementara asupan protein untuk pasien yang bergejala dan tanpa gejala tidak masalah jika diberikan asupan protein tinggi.

Baca juga: Dr. drg. Munawir H Usman, SKG., MAP Sebut Kawat Gigi Berfungsi untuk Memperbaiki Kelainan pada Gigi

Penjelasan Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S. Gz dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk edisi 28 Agustus 2021.

(Tribunhealth.com/Dhiyanti)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved