TRIBUNHEALTH.COM - Bronkritis merupakan infeksi saluran udara utama paru-paru, yakni bronkus.
Akibatnya bronkus menjadi teriritasi dan meradang.
Bronkus sendiri bercabang di kedua sisi trakea.
Saluran tersebut kemudian mengarah ke saluran udara yang lebih kecil, disebut dengan bronkiolus.
Pada keadaan normal, bronkus menghasilkan semacam lendir, sebagaimana dikutip TribunHealth.com dari laman resmi NHS Inggris, Rabu (28/7/2021).
Fungsinya untuk menjebak debu dan partikel lain yang berpotensi menyebabkan iritasi.
Baca juga: Beberapa Cara Merawat Kesehatan Paru-paru saat Pandemi dari dr. Edward Pandu Wiriansya, Sp.P(K)
Baca juga: Simak, Dokter Sebut Perbedaan Covid-19 dengan Penyakit Paru Lain Melalui Gejala yang diderita
Pada sebagian besar kasus bronkitis, infeksi mengiritasi saluran tersebut.
Akibatnya lendir yang dihasilkan lebih banyak dari biasanya.
Kemudian tubuh akan berupaya memindahkan kelebihan lendir tersebut melalui mekanisme batuk.
Bronkritis bisa dikategorikan menjadi akut dan kronis.
Bronkitis Akut
Bronkitis akut adalah peradangan sementara pada saluran udara yang menyebabkan batuk dan lendir.
Biasanya kasus ini berlangsung hingga 3 minggu.
Meski bisa menyerang siapa saja, bronkitis akut kebanyakan terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Ini lebih sering terjadi di musim dingin dan sering muncul setelah pilek, sakit tenggorokan atau flu.
Bronkitis Kronis
Baca juga: Simak, Dokter Jelaskan Proses Perjalanan Penyakit Paru-paru akibat Gangguan Sistem Pertahanan Tubuh
Baca juga: Benarkah Invermectin Efektif Sebagai Obat Terapi COVID-19? Begini Kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru
Sementara bronkitis kronis bisa berlangsung selama 3 bulan dalam setahun dan setidaknya selama 2 tahun berturut-turut.
Bronkitis kronis adalah satu di antara kondisi paru-paru yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Penyakit ini lebih banyak menyerang orang dewasa di atas usia 40 tahun.
Bagi penderita bronkitis, penting untuk menghindari asap rokok.
Bahan kimia yang terkandung di dalamnya dapat meningkatkan risiko terkena bronkitis kronis dan COPD.
Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.
(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)