Breaking News:

Psikolog Paparkan Berbagai Penyebab Kekerasan Seksual terhadap Anak, Bisa karena Masalah Kepribadian

Selain faktor kepribadian, Adib Setiawan juga menyebut berbagai faktor berikut ini

Tribunnews.com
Ilustrasi dampak kekerasan terhadap anak 

TRIBUNHEALTH.COM - Psikolog Adib Setiawan S.Psi., M.Psi berbicara mengenai kekerasan seksual dalam program Healthy Talk TribunHealth.com edisi Sabtu (12/6/2021).

Adib Setiawan memulai pemaparannya dengan menjelaskan pengertian kekerasan seksual pada anak.

Dia menyebut kekerasan seksual adalah tindakan terhadap organ seksual.

Namun, dalam hal ini tidak ada persetujuan dari korban.

"Jadi artinya ada unsur pemaksaan. Sesuatu yang tidak disetujui, tidak disukai," jelasnya.

Tindakan seperti ini bisa terjadi karena ketidakmampuan pelaku dalam menyalurkan hasrat seksual secara sehat.

Baca juga: Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Dipengaruhi oleh Perawatan Gigi Susu pada Anak

Baca juga: Bagaimana Cara Orangtua Mengetahui bahwa Anak Mengalami Gejala Mata Malas Dok?

Ilustrasi kekerasan pada anak
Ilustrasi kekerasan pada anak (Kompas.com)

"Pelaku itu entah dia punya hasrat seksual yang tidak sehat."

"Misalnya orangnya cenderung memaksa, cenderung kriminal, atau tidak tersalurkan dengan baik dengan hal-hal yang diperbolehkan," paparnya lebih lanjut.

Sebenarnya, penyebab pelaku melakukan kekerasan seksual masih multifaktor.

Artinya, penyebabnya bisa beragam.

Adib mencontohkan tidak adanya pasangan atau konflik dengan pasangan bisa pula menjadi pemicu.

Selebihnya, unsur kepribadian pun tak luput dari penyebab.

Baca juga: Apakah Kekerasan pada Anak Menyebabkan Rasa Kurang Percaya Diri? Begini Tanggapan Psikolog

Baca juga: Tips untuk Mengatasi Trauma Anak Akibat Kekerasan, Psikolog: Imbangi dengan Kasih Sayang

Ilustrasi kekerasan pada anak.
Ilustrasi kekerasan pada anak. (Kompas.com)

"Entah ada masalah dengan kepribadian si pelaku, bisa aja. Jadi banyak faktor."

"Bisa karena hasratnya memang tidak sehat, ada masalah kepribadian, atau ada hal-hal yang memang si pelaku ini cenderung tidak paham aturan," tandasnya.

Dua faktor penyebab yang lain adalah pola asuh orangtua dan kontrol diri.

Adib Setiawan mencontohkan, ketika anak terlalu dimanja pada masa kecilnya.

Hal itu bisa memicu anak mudah merasa tidak suka diatur.

"Dia baru tahu kalau dia itu nanti tahu akibatnya," paparnya.

Baca artikel lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved