Breaking News:

Apakah Dampak Menggertakkan Gigi saat Tidur? Simak Ulasan dari Dokter

Saat tidur kita tidak menyadari dengan apa yang kita lakukan. Seperti terbiasa menggertakkan gigi saat tertidur. Apakah ada dampaknya?

Kompas.com
ilustrasi menggertakkan gigi saat tertidur 

TRIBUNHEALTH.COM - Kebiasaan seseorang menggertakkan gigi saat tidur memang tidak disadari.

Menggertakkan gigi ini dalam istilah lainnya adalah Bruxism.

Bruxism adalah salah satu kondisi ketika seseorang menggertakkan, menggesekkan gigi secara tidak sadar dan menjadi suatu kebiasaan.

Hal ini terjadi karena gangguan komponen sistem pengunyahan akibat aktivitas parafungsional area pengunyahan, gigi dan mulut, dari fungsi normalnya.

ilustrasi menggertakkan gigi saat tertidur
ilustrasi menggertakkan gigi saat tertidur (Kompas.com)

Baca juga: Diet Ketat tanpa Makan Sayur? Ahli Gizi: Sama Sekali Tidak Benar!

Kasus ini banyak dialami, tetapi biasanya yang menyadari hal tersebut bukan sang penderita atau orang lain.

Karena sebagian besar dilakukan pada saat tertidur.

Bruxism terbagi menjadi dua, yaitu:

- Bruxism primer: muncul bukan karena suatu kondisi medis tertentu

- Bruxism sekunder: muncul karena suatu kondisi medis tertentu

Baca juga: Mengenal Penyebab Gigi Berantakan pada Anak-anak

Berdasarkan waktu kemunculannya, bruxism juga dibagi menjadi dua jenis:

- Bruxism saat terjaga (awake bruxism) terjadi saat sedang terjada dan tidak disadari serta biasanya pada siang hari

- Bruxism saat tidur (sleep bruxism) terjadi saat sedang tidur

Kasus yang terjadi pada bruxism adalah kasus-kasus yang berlangsung ketika gigi geligi rahang atas bertemu dengan gigi geligi rahang bawah.

Baca juga: Simak Tips Memiliki Kulit Wajah Glowing yang Disampaikan oleh Dokter

Dan biasanya terjadi proses menggigit dengan keras atau mengatupkan rahang atas dan rahang bawah dengan keras yang biasanya menimbulkan suara tertentu.

Ada beberapa tanda yang bisa diberitahukan kepada penderita selain direkam, secara klinis tanda-tandanya sebagai berikut:

- Atrisi, biasanya pada permukaan daya gigit gigi-gigi depan baik rahang atas atau rahang bawah terjadi pengikisan.

Begitupun pada gigi rahang belakang juga terjadi pengikisan.

ilustrasi menggertakkan gigi saat tertidur
ilustrasi menggertakkan gigi saat tertidur (Kompas.com)

Ada proses pengurangan enamel pada giginya.

- Afraksi, biasanya terjadi pada area yang dekat dengan langit-langit kepala tinal

- Fraktur (gigi yang pecah)

Akibat terjadinya proses bruxism, karena terjadi pengurangan atau hancurnya lapisan pertama gigi sehingga membuka lapisan kedua gigi dentin.

Maka pasien bisa mengalami kondisi sensitive dentint, rasa ngilu pada giginya.

Baca juga: Bagaimana Mengatasi Stres Belajar di Rumah yang Tidak Kondusif, Pak? Begini Jawaban Ahli Psikolog

Hal itu bisa memicu kejadian kelainan jaringan periodontal atau jaringan pendukung gigi.

Termasuk kaus gigi nyeri berkepanjangan ketik gangguannya sudah mencapai area yang melibatkan pulpa gigi.

Temporomandibular joint adalah persendian yang menghubungkan rahang atas dan rahang bawah pada area tersebut, bisa mengalami gangguan atau bisa disebut temporomandibular joint disorder.

Bruxism memiliki pengaruh tidak ideal pada jaringan gigi, jaringan pendukung gigi, pada persendian temporomandibular joint, termasuk pada kondisi keluhan nyeri pada kepala.

Baca juga: Dok, Apa Jenis Perawatan Gigi yang Berfungsi Meratakan dan Merapikan Gigi?

Penyebab bruxism:

- Emosi (stress, kemarahan, kecemasan, frustasi)

- Gangguan tidur

- Medikasi (efek samping obat tertentu)

- Gaya hidup

- Masalah pada rahang

Komplikasi yang bisa terjadi akibat bruxism seperti berikut:

- Kerusakan pada gigi atau dagu

- Sakit kepala

- Rasa sakit pada wajah

- Kelainan di otot temporomandibular, otot yang terletak di depan telinga, yang mungkin terkadang berbunyi saat membuka dan menutup mulut.

Baca juga: Ahli Gizi Menjelaskan Anak Usia 6 Bulan Tidak Memerlukan Garam pada Makanannya

Biasanya bruxism tidak memerlukan perawatan medis

Bad habit broxism bisa berimbas tidak ideal bagi kesehatan kita.

Namun dalam beberapa kasus yang berat, diperlukan perawatan yang meliputi perawatan gigi, terapi, maupun konseling, dan obat-obatan.

Jika bruxism disebabkan oleh kondisi psikologis, seperti stres, cemas, marah dan frustrasi.

Maka berkonsultasilah dengan psikolog, psikiater, atau ahli kesehatan mental lainnya untuk mencari cara mengurangi gangguan psikologis tersebut.

Ini disampaikan di channel YouTube Tribunnews.com dalam acara Sapa Dokter, Bersama drg. R. Ngt. Anastasia Ririen. Jumat (5/3/2021)

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved